RATAP TANGIS SEORANG ANAK
"Aku tersesat,tak tahu harus kemana! Oh God!!!! Aku harus kemana mencari perlindungan?" Tanya seorang anak yang tengah kebingungan mencari perlindungan di tengah badai. Tak ada seorang pun yang menghiraukan kesedihan dan kebingungannya. Semua hanya memikirkan keselamatan masing-masing. Kini, tempat yang semula ramai, berubah hening, sunyi, senyap, tak ada suara apapun. Yang tertinggal hanyalah dia, badai, dan kegelapan. Dia hanya bisa menangis meratapi keadaannya. Dia tak tahu harus kemana dan bagaimana berlindung. Ya..... Dia akhirnya berjalan sedikit demi sedikit, berusaha tuk menjadi kuat. Tapi........ "Ah, tidak! Aku tak kuat lagi. Aku pasrah menerima semua ini." Dia kembali menyerah kepada keadaan.
Saat itu hanya satu yang dia pikirkan! KELUAR dari badai ini sesegera mungkin. Disaat kesedihan dan kebingungan itu melanda, sayup-sayup nampak di kejauhan terlihat suatu sosok yang sepertinya, dia kenal. Sosok itu semakin mendekat, mendekat dan mendekat! Kini sosok itu memapah dia jalan. Sungguh mulianya sosok ini. Di tengah badai besar, sosok ini rela mengorbankan keselamatannya sendiri untuk menolong anak malang yang hanya bisa meratap meratap dan meratap.
Sampai mereka tiba di tempat yang aman, sang sosok masih terus merawat dan menemani anak malang ini. Merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati. Sampai akhirnya si anak malang ini tahu, siapa sosok yang telah menolongnya keluar dari badai keparat itu! Ya, dia tahu siapa sosok itu!
IBU, ya benar sosok itu adalah ibunya. Ibu yang selama ini dia telantarkan, yang selama ini dia benci, ibu yang selama ini dia musuhi, ibu yang selama ini dia kasari. "Oh God! Kenapa ibuku masih mau menolongku? Apakah dia tidak sadar bahwa aku membencinya? Aku benci peraturannya, aku benci larangannya, aku benci, aku benci!!!! Tapi kenapa dia masih mau menolongku?
Dia memberanikan diri bertanya pada ibunya. "Ibu, kenapa kau masih mau menolongku? Padahal aku selalu jahat dan durhaka padamu? Aku bahkan terlanjur membencimu! Kenapa bu? Kenapa?" Tanyanya dengan diiringi isak tangis. Sang Ibu hanya mendesah, dan dengan kelembutannya ia pun menjawab. "Naluri nak! Aku adalah seorang ibu. Aku tak akan bisa hidup tenang tanpa anakku di sisiku. Walau, aku juga tahu kalau anakku selalu bikin aku marah, sedih bahkan kecewa. Tapi itu semua akan sirna segera. Aku tak pernah membencimu nak! Walau kau berniat hendak membunuhku sekalian, aku rela.! Selama itu membuatmu senang dan bahagia!" Sang anak hanya bisa tertegun mendengar jawaban sang Ibu. "Oh God! Aku salah menilai ibuku selama ini. Aku selalu dijalari hawa nafsu. Aku hanya memikirkan kepentingan dan kebahagiaanku. Tanpa sedikitpun aku mengingat dia, malah aku seakan ingin melupakannya saja. Oh God, aku semakin tersesat dan kehilangan arah. Aku menyesal, aku menyesal! aku menyesal telah membencinya. Aku menyesal!" Sesalnya sembari diirigi air mata.
"Nak, kamu sudah baikkan? Bagaimana, apakah masih ada yang sakit? aku takut kamu terluka, aku tak ingin kamu kesakitan, katakan padaku bagian mana yang sakit? Akan ku obati segera mungkin agar kau tak merasa sakit dan tersiksa!" Tanya ibunya yang membuyarkan lamunannya. Dan di dalam hatinya dia hanya bisa berkata, "Oh, God! Ibu masih mengkhawatirkanku? Sementara ia sendiri terluka dan kesakitan? Oh..... Ibu, aku tak menyangka kau sehebat dan sekuat ini. Terima kasih bu! lalu, dia menjawab pertanyaan ibunya tadi. "Bu, aku tak mengapa. Aku sudah sehat, justru aku lihat ibu terluka. Lekas bu, nanda obati." Tawar sang anak. "Tak mengapa nak! Ibu kuat, ibu sehat. Ibu hanya takut kau yang mengapa. Maka bila kau mengapa, ibu akan menyalahkan diri ibu smpai kapan pun. Karena ibu telah menyiakan kepercayaan Allah yang diberikan padaku." Oh, sungguh mulianya hati seorang ibu. Mendengar pernyataan sang Ibu, sang anak malah menangis sekencangnya dan memeluk erat ibunya.
"Oh, sungguh demi Allah, bu. Ananda tak mengapa. Ananda sehat, tak ada luka sedikitpun. Hanya hati ananda lah yang sakit bu! Tapi, kini Ananda telah menemukan obat nya." Kata sang anak sembari memeluk sang Bunda. "Oh, anakku! Ibu senang mendengar kau tak mengapa. Tapi, apakah yang membuat hatimu terluka? Dan apakah pula obat hati yang kau maksud itu anakku?" Tanya sang Ibu kemudian. Sang anak melepaskan pelukannya. Dan dia menatap sang Bunda. Sembari memegang tangan sang Ibu, anak itu menjawab. "Bu, hanyalah kau yang menjadi penawar lukaku. Hanya kau yang sanggup menjawab semua raguku. Hanya ketulusanmu pulalah yang membuat semua kebencianku lenyap. Terima kasih bu, kau telah mengandung, melahirkan, membesarkan, mendidik, bahkan merawatku sekaligus dengan tulus. Terima kasih bu, terima kasih!"
TESS........ Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata keduanya. Keduanya terdiam, diam membisu. Mereka tak dapat berkata apa-apa. Mereka hanya bisa menangis dan saling memeluk satu sama lain. Selang beberapa waktu kemudian, sang Ibu berkata dengan penuh kelembutan. "Nak, ibu senang jikalau kau menjadikan ibu yang tua renta ini sebagai penawar luka di hatimu. Ibu senang nak, ibu senang! Sekali lagi ibu berkata, Ibu takkan pernah membencimu walau kau bunuh ibu sekalipun! Naluri keibuan dan kasih sayangku lah yang telah redakan amarah ku padamu. Ibu senang kau akhirnya sadar. Sadar akan siapa dirimu, dan kau sudah mulai dewasa nak!" Kata ibunya yang penuh kelembutan. Sang anak akhirnya berhenti menangis dan mulai tersenyu. Disekanya air mata yang keluar dari matanya. Dan dia pula yang menyeka airmata di pipi Ibunya dengan kedua telapak tangannya yang lembut. Dan, kembali dia memeluk sang ibu dan dia pun merasakan getaran cinta, kelembutan dan kasih sayang Ibunya yang selama hilang. Hilang karena keangkuhan dan kebenciannya akan sosok seorang Ibu.
"Bu, terima kasih atas segala kasih sayang, ketulusan dan pengorbananmu yang selama ini telah kau berikan padaku." Dengan penuh kasih sayang, sang ibu membelai rambut anaknya, anak yang selama ini menjadi kebanggaannya. Anak yang selama ini menjadi curahan hatinya. Walau seringkali sang anak menyakiti hatinya, ia tetap sayang. Dan dengan penuh kelembutan dia berkata. "Nak, ibu senang sekali melihat kau berubah menjadi dewasa seperti ini. Semua kasih sayang, ketulusan, dan pengorbanan yang kuberikan padamu semata-mata karena tugasku sebagai seorang ibu , nak! Sudah sepatutnya kau mendapatkan semua itu anakku!" Sang anak tersenyum, dan berkata lagi. "Sekali lagi, terima kasih bu! Entah dengan apa dan bagaimana aku bisa membalas semua budi baikmu bu!" Mendengar perkataan anaknya, sang ibu hanya bisa tertawa. "Hahahaha, anakku. Kau tak usah bingung dengan apa dan bagaimana kau membalas semua ini. Aku ikhlas anakku. Aku ikhlas" Sang anak yang tak puas dengan jawaban sang Ibu, memprotesnya. "Tapi bu, selama ini kalau kita menerima kebaikan dari orang lain, maka kita wajib membalasnya. Dan, jika kita tidak membalas kebaikan mereka, kita akan dicap sebagai orang yang tak tahu balas budi. aku tak mau diberi gelar seperti itu! Katakan bu! Katakan apa yang kau mau? Aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Apa ang kau inginkan? Emas? Uang? Rumah? Mobil? Atau apa bu? Ayo jawab! Aku akan memenuhinya! Aku janji!"
Kali ini, sang Ibu tertawa terbahak-bahak sampai sang anak kaget dan tak mengerti. "Bu, apakah ada yang salah dengan ucapanku? Apakah ada yang lucu dari perkataanku tadi? jawab bu, kenapa ibu malah tertawa ketika kutawari semua itu? Apakah masih kurang semua benda itu?" Sang Ibu terdiam sejenak. Dia menarik nafas pelanpelan, dan menghembuskannya. Dia menjawab pertanyaan yang konyol menurutnya. Bahkan lebih konyol dari apapun di dunia ini. Karena pertanyaan konyol itu terlontar dari mulut sang anak. "Hmmm, bukan itu maksud ibu, nak! Kau hanya memikirkan dunia. Kau telah terpengaruh dengan gemerlap dunia." Sahut ibunya yang malah semakin membuat sang anak bingung. "Oh, ibu. Jadi perkataanku tadi salah? Jadi dengan apa aku harus membalas semua budi baikku?” Tanya sang anak. Sang ibu mendesah dan menjawab pertanyaan sang anak.
“Nak, kau tak perlu membalasku dengan keduniaanmu. Melihat kau rajin beribadah, dan menjadi anak yang sholeh saja ibumu ini sudah senang nak. Kau tak perlu susah payah mencarikanku harta, masalah harta hanyalah nomor sekian. Yang terutama, kau menjadi anak berbakti dan menjadi orang sukses, itu lebih dari cukup nak!” Kali ini sang anak mengerti. Dan dia tersenyum seraya memeluk sang Ibu. “Terima kasih bu, kau seungguh mulia. Aku berjanji akan mewujudkan semua keinginanmu itu. Aku akan menjadi anak yang berbakti pada Ibu. Dan aku juga akan menjadi orang yang taat pada Allah. Terima kasih bu, terima kasih atas semua yang telah kau berikan. And, i just wanna say i Love you mom!” Sang ibu lantas menjawab. “Love you to baby!”. Dan mereka berdua kini hidup dalam kebahagiaan.
Seorang ibu adalah satu satunya sosok yang mulia di dunia ini. Coba kau bayangkan, betapa banyak pengorbanan yang telah beliau berikan padamu.
“Siapa yang rela selama 9 bulan 10 hari tidur tidak nyenyak?”
“Siapa yang rela menahan mual bahkan memuntahkan semua makanan selama kau dikandungan?”
“Siapa pula yang rela mengorbankan nyawa hanya demi mengeluarkanmu?”
“Siapa pula yang mau menyusuimu,menciumi pipimu untuk yang pertama kali?” “Siapa yang ikhlas tetap terjaga saat malam tiba hanya demi menjagamu?”
“Siapa juga yang rela membagi selimutnya agar kau tidak kedinginan sementara ia sendiri kedinginan?”
“Siapa yang mau membersihkan kotoranmu saat kau buang air sementara ia sendiri tengah makan?”
“Siapa yang telah membesarkanmu? Siapa yang telah mendidikmu menjadi anak yang berbakti? Siapa yang selalu ada disisimu kala kau suka, duka, ataupun sakit?”
“Siapa juga yang akan berteriak, hei lihat anakku sudah hebat, anakku sukses. Melihat kau bahagia?”
“Siapa pula yang selalu ada saat kau terguncang? Meratapi nasib?”
“Dan, siapa yang rela menjaga anak anakmu saat kau pergi bekerja?”
“Dan, mungkin, siapa yang akan berada disisimu saat kau menghadapi Sakratul maut yang maha dahsyat?”
Ketahuilah, hanya satu jawabannya. Hanya dialah satu satunya. Ya, IBU. Ibumu lah jawabannya. Ibumu rela mengorbankanjiwa,raga, harta bahkan nyawa sekalipun untukmu. Maka sepatutnya kita berterima kasih pada Ibu. Kembalilah ke pelukan Ibumu. Peluk,cium, dan minta maaflah pada Ibu. Minta maaf atas segala dosa yang kau buat. Atau datangilah makam ibumu, bersihkan dan rawat makamnya! Berikanlah do’a untuk Ibumu yang telah ada di alam sana.
Kembalilah, kembalilah sebagai anak yang berbakti pada ibu. Kembali ke pelukannya dan minta maaflah! Seraya berkata,
“Ibu, Terima kasih untuk semuanya. Aku tak bisa membalas budi baikmu. Aku hanya bisa berkata, Bu, I LOVE YOU VERY MUCH. YOU WILL STAY IN MY HEART. FOREVER!!!!!!!”.
Bandung, 16 November 2010